JAKARTA – Seorang pekerja profesi bernama Rahmat Hidayat telah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Istana Negara. Dalam surat tersebut, ia menyampaikan aspirasi pribadi untuk menolak penerimaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mengajak agar dana yang seharusnya dialokasikan untuk dirinya dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-gurunya.
Dalam surat yang dimulai dengan sapaan hormat dan salam sejahtera, Rahmat memperkenalkan diri sebagai seseorang yang dibesarkan dari keluarga politik dan harus merawat adiknya sendirian sejak kecil tanpa banyak perhatian orang tua. Namun, ia mengaku telah diajarkan untuk menghormati orang yang berjasa, terutama guru yang telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, cerdas, dan beradab.
“Guru di sekolah, yang mengajarkan tentang etika dalam berbahasa juga akhlak dan ilmu, memiliki peran besar dalam kehidupan saya,” tulis Rahmat dalam suratnya. Ia mengaku melihat masih banyak guru di sekitar tempat tinggalnya yang mengabdikan diri dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh kesejahteraan yang layak, padahal pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program MBG.
Rahmat menjelaskan bahwa saat ini ia masih memiliki masa penerimaan MBG selama hampir satu tahun lagi. Jika dihitung secara sederhana, jatah MBG-nya selama 18 bulan dengan perhitungan 25 hari dalam sebulan dan nilai Rp15.000 per hari akan mencapai total Rp6.750.000. “Bagi saya pribadi, angka tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru,” ujarnya dalam surat.
Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan merupakan bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian seorang pekerja profesi terhadap kesejahteraan guru. “Sudah saatnya kita menyuarakan pentingnya kesejahteraan guru sebagai pilar utama kemajuan bangsa,” tulisnya pada bagian akhir surat, dengan harapan agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pendidikan ke depan. (Sang Pekerja Profesi)

